Kuliner Hilisimaetano yang Patut Dicoba Saat Berkunjung ke Nias Selatan

Datang ke Hilisimaetano rasanya kurang lengkap kalau hanya sibuk melihat rumah adat, batu megalitik, atau menunggu momen seorang pemuda melakukan Fahombo.

Setelah berjalan mengelilingi kampung, ada satu pengalaman lain yang justru membuat kunjungan terasa lebih dekat dengan kehidupan warga: mencicipi makanan buatan masyarakat setempat.

Kuliner Hilisimaetano yang patut dicoba tidak selalu hadir dalam bentuk restoran besar atau menu rumit. Sebagian justru berupa jajanan sederhana seperti Godo-godo, Galametura, pisang goreng, hingga secangkir kopi desa.

Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat aneka jajanan tersebut sebagai produk yang dibuat langsung oleh warga Hilisimaetano.

Menariknya, makanan di desa wisata ini memperlihatkan pertemuan antara kuliner Nias dan jajanan yang sudah akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sumatera Utara. Jadi, tidak semua makanan yang dijual harus dianggap sebagai kuliner asli Nias sejak zaman dahulu.

Justru variasi itulah yang membuat pengalaman makan di Hilisimaetano terasa natural: sederhana, rumahan, dan dekat dengan kehidupan masyrakat.

Kuliner Menjadi Bagian dari Pengalaman Desa Wisata Hilisimaetano

Hilisimaetano dikenal sebagai desa wisata berbasis budaya di Kecamatan Maniamolo, Nias Selatan. Selain atraksi budaya, Jadesta juga memasukkan aneka jajanan pasar dan Kopi Hilisimaetano dalam daftar produk wisata desa.

Artinya, kuliner mulai ditempatkan sebagai bagian dari pengalaman berkunjung, bukan sekadar kebutuhan makan.

Hal ini penting bagi sebuah desa wisata. Wisatawan mungkin datang karena tertarik pada Fahombo atau Omo Hada, tetapi makanan memberi kesempatan berinteraksi lebih dekat dengan masyarakat.

Duduk menikmati jajanan yang dibuat warga memungkinkan perjalanan terasa lebih santai. Kita tidak lagi sekadar berpindah dari satu objek ke objek berikutnya, tetapi ikut merasakan ritme kehidupan desa.

Kuliner juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas. Jika wisatawan membeli kopi, jajanan, atau produk makanan lainnya, manfaat kunjungan dapat menjangkau keluarga dan pelaku usaha lokal.

1. Godo-Godo, Jajanan Sederhana Berbahan Umbi

Salah satu nama yang muncul dalam daftar jajanan resmi Desa Wisata Hilisimaetano adalah Godo-godo.

Makanan ini menarik karena menggunakan bahan yang sangat dekat dengan pola pangan tradisional masyarakat Nias: umbi-umbian.

Perpustakaan Digital Budaya Indonesia mendokumentasikan salah satu versi Godo-godo Nias yang dibuat dari ubi jalar yang diparut, dibentuk, kemudian dimasak hingga menjadi camilan sederhana.

Versi dan cara pengolahannya dapat berbeda antara keluarga maupun daerah, sehingga tidak heran bila ada Godo-godo yang dibuat dengan jenis umbi atau teknik berbeda.

Karakter seperti inilah yang sering ditemukan pada makanan rumahan.

Tidak selalu ada satu resep baku yang harus diikuti persis.

Bagi wisatawan, Godo-godo cocok dicoba sebagai camilan setelah berjalan keliling desa. Rasanya relatif sederhana sehingga mudah diterima, sekaligus memberikan gambaran bagaimana bahan lokal dapat berubah menjadi makanan sehari-hari.

2. Galametura, Kue Lembut yang Dibungkus Daun

Nama berikutnya mungkin lebih asing bagi wisatawan dari luar Nias: Galametura.

Jadesta secara khusus memasukkan Galametura dalam daftar jajanan yang diproduksi warga Hilisimaetano.

Dalam dokumentasi kuliner Nias, Galametura dikenal sebagai jenis kue basah yang bertekstur lembut, berwarna relatif putih, dan umumnya dibungkus menggunakan daun pisang. Karena tampilannya, makanan ini kadang dibandingkan dengan nagasari, meskipun mempunyai karakter tersendiri.

Bagi pengunjung, Galametura menarik justru karena tampilannya tidak berlebihan.

Kemasan daun pisang memberikan kesan tradisional, sementara teksturnya membuat kue ini cocok dijadikan teman minum kopi.

Jenis makanan seperti ini juga punya potensi besar sebagai identitas kuliner desa. Dengan penyajian yang tetap sederhana tetapi higienis dan konsisten, Galametura dapat menjadi salah satu jajanan yang dicari wisatawan saat datang ke Hilisimaetano.

3. Pisang Goreng, Sederhana tetapi Sulit Ditolak

Tidak semua makanan yang menarik harus terdengar asing.

Pisang goreng juga menjadi salah satu produk yang secara resmi dicatat sebagai jajanan buatan warga Hilisimaetano.

Mungkin terdengar terlalu biasa. Pisang goreng bisa ditemukan hampir di mana-mana di Indonesia.

Namun pengalaman makan sangat bergantung pada tempatnya.

Menikmati pisang goreng hangat setelah berjalan di antara rumah tradisional atau memandang kawasan pertanian Hilisimaetano tentu memberikan suasana berbeda dibanding membelinya di kota.

Apalagi pisang merupakan salah satu komoditas hortikultura yang dibudidayakan dalam wilayah Kecamatan Maniamolo dan kawasan Nias Selatan secara lebih luas. Karena itu, keberadaan jajanan berbahan pisang terasa cukup natural dalam kehidupan kuliner setempat.

Kombinasi yang paling menarik justru sederhana: pisang goreng dan kopi Hilisimaetano.

Jadesta sendiri merekomendasikan kopi lokal tersebut dinikmati bersama jajanan seperti pisang goreng dan ubi.

4. Kopi Hilisimaetano dan Aroma Sangrai Kayu

Kalau ada satu minuman yang pantas mendapat perhatian khusus, jawabannya adalah Kopi Hilisimaetano.

Berbeda dari jajanan yang mungkin ditemukan di banyak tempat, produk ini secara langsung membawa nama desa.

Jadesta menjelaskan bahwa kopi tersebut merupakan produksi Hilisimaetano dan disangrai menggunakan metode pembakaran kayu. Cara ini dipertahankan untuk menghasilkan karakter kopi tradisional.

Proses sangrai menjadi bagian menarik dari ceritanya.

Di tengah tren mesin roasting modern dengan pengaturan suhu sangat presisi, metode pembakaran kayu membawa pengalaman berbeda. Hasil akhirnya tentu dipengaruhi biji, tingkat sangrai, teknik pengolah, dan cara penyeduhan.

Namun bagi wisatawan, nilai kopi tidak hanya berada dalam rasa.

Ada cerita tentang cara warga mengolahnya.

Produk kopi seperti ini juga mempunyai peluang menjadi oleh-oleh. Secangkir kopi hanya bertahan beberapa menit, tetapi sebungkus biji atau bubuk kopi yang dibawa pulang dapat mengingatkan pengunjung pada perjalanan mereka ke Hilisimaetano.

5. Mie Gomak dan Tahu Isi Melengkapi Pilihan Jajanan

Daftar kuliner yang dibuat warga Hilisimaetano juga mencakup Mie Gomak dan tahu isi.

Di sini perlu ada sedikit catatan.

Tidak semua makanan yang dijual di sebuah desa wisata otomatis merupakan makanan tradisional khas desa tersebut. Mie Gomak lebih luas dikenal sebagai bagian dari kuliner Sumatera Utara, sementara tahu isi ditemukan di banyak daerah Indonesia.

Namun keduanya tetap relevan dalam membahas kuliner Hilisimaetano karena memang tercatat sebagai makanan yang diproduksi dan ditawarkan warga.

Hal ini menunjukkan bahwa wisata kuliner desa tidak harus dibatasi pada hidangan ritual atau resep kuno.

Makanan yang benar-benar dimakan dan dibuat masyrakat hari ini juga penting.

Bagi wisatawan, menu seperti Mie Gomak bisa menjadi pilihan ketika membutuhkan makanan yang lebih mengenyangkan setelah mengelilingi desa. Sementara tahu isi cocok sebagai camilan tambahan bersama jajanan lainnya.

6. Umbi-Umbian Punya Jejak Kuat dalam Kuliner Nias

Jika memperhatikan Godo-godo dan berbagai makanan Nias lainnya, satu pola cukup mudah terlihat: penggunaan umbi.

Gowi Nifufu atau Gowi Nitutu, misalnya, dikenal dalam tradisi kuliner Nias sebagai makanan dari ubi jalar, ubi kayu, atau talas yang direbus, kemudian ditumbuk dan dapat dicampur dengan kelapa parut.

Makanan tersebut memberi petunjuk tentang sejarah pola pangan masyarakat.

Beras memang sangat penting sekarang, tetapi umbi-umbian sejak lama menyediakan alternatif sumber karbohidrat yang mudah tumbuh dan dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan.

Konteks seperti ini membuat Godo-godo lebih menarik.

Ia tidak berdiri sebagai jajanan yang kebetulan menggunakan ubi, tetapi dapat dilihat sebagai bagian dari tradsi kuliner yang akrab dengan hasil kebun dan bahan sederhana.

Bagi wisatawan, memahami cerita bahan sering membuat makanan terasa lebih bermakna.

Kuliner Hilisimaetano Punya Peluang Menjadi Oleh-Oleh

Status Hilisimaetano sebagai desa wisata membuka kesempatan besar bagi produk makanan lokal.

Pada 2022, Hilisimaetano masuk dalam 50 desa wisata terbaik pada Anugerah Desa Wisata Indonesia. Program pengembangan desa kemudian juga menempatkan suvenir, termasuk kuliner, sebagai salah satu bagian ekonomi kreatif yang perlu diperkuat.

Pada 2024, Hilisimaetano termasuk desa penerima program Dukungan Pengembangan Usaha Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Program tersebut ditujukan antara lain untuk membantu pengembangan usaha kuliner, kriya, atraksi, dan fesyen di desa wisata.

Peluangnya cukup jelas.

Kopi sudah relatif mudah dikemas sebagai oleh-oleh. Jajanan tertentu juga dapat dikembangkan dalam versi yang lebih tahan lama tanpa kehilangan identitas lokal.

Tantangannya adalah menjaga kualitas, kebersihan, kemasan, dan cerita produk.

Wisatawan bukan hanya perlu tahu nama makanannya, tetapi siapa yang membuatnya dan apa hubungan makanan itu dengan Hilisimaetano.

Menikmati Kuliner Sambil Mengenal Kehidupan Desa

Cara terbaik menikmati makanan Hilisimaetano mungkin bukan dengan datang membawa daftar panjang menu yang wajib dicentang.

Lebih menarik jika kuliner menjadi bagian dari perjalanan.

Mulailah dengan berjalan melihat rumah adat dan batu megalitik. Setelah menyaksikan Fahombo atau aktivitas budaya, cari tempat untuk menikmati kopi bersama jajanan buatan warga.

Jika tersedia, tanyakan makanan apa yang baru dibuat hari itu.

Pilihan dapat berubah tergantung kegiatan desa, ketersediaan bahan, festival, atau pesanan wisatawan. Daftar Jadesta memberikan gambaran tentang produk yang dikembangkan, tetapi bukan berarti seluruh makanan selalu tersedia setiap saat.

Pendekatan seperti ini membuat pengalaman terasa lebih autentik.

Kita tidak hanya datang untuk “mencicipi makanan khas”, tetapi berinteraksi dengan orang yang membuatnya.

Dan sering kali, cerita dari dapur justru menjadi bagian perjalanan yang paling diingat.

Kuliner Hilisimaetano yang patut dicoba menunjukkan bahwa pengalaman wisata Nias Selatan tidak hanya berisi rumah adat dan pertunjukan budaya.

Godo-godo, Galametura, pisang goreng, Mie Gomak, tahu isi, dan Kopi Hilisimaetano tercatat sebagai produk makanan yang dibuat masyarakat desa.

Beberapa makanan mempunyai akar kuat dalam kuliner Nias, sedangkan lainnya mencerminkan makanan yang hidup dalam keseharian warga sekarang. Kombinasi itulah yang membuat pengalaman makan terasa lebih natural.

Kalau berkunjung ke Hilisimaetano, sisihkan waktu untuk duduk, menikmati kopi sangrai kayu, dan mencoba jajanan lokal yang tersedia.

Jangan ragu bertanya kepada warga tentang bahan dan cara membuatnya. Dari makanan sederhana, kita bisa mengenal sisi Hilisimaetano yang tidak terlihat hanya dari sebuah foto wisata.

FAQ

1. Apa saja kuliner yang bisa dicoba di Hilisimaetano?

Jadesta mencatat pisang goreng, Godo-godo, Galametura, Mie Gomak, dan tahu isi sebagai jajanan yang dibuat warga Desa Hilisimaetano.

2. Apa minuman khas yang bisa dicoba di Hilisimaetano?

Salah satunya adalah Kopi Hilisimaetano, kopi produksi desa yang disangrai menggunakan metode pembakaran kayu.

3. Apa itu Godo-godo?

Godo-godo merupakan makanan berbahan umbi yang dikenal dalam kuliner Nias. Salah satu versi menggunakan ubi yang diparut, dibentuk, lalu dimasak menjadi camilan. Resepnya dapat bervariasi antardaerah dan keluarga.

4. Apa itu Galametura?

Galametura merupakan kue basah Nias bertekstur lembut yang umumnya dibungkus daun pisang. Makanan ini juga tercatat sebagai salah satu jajanan yang dibuat warga Hilisimaetano.

5. Apakah semua jajanan tersedia setiap hari?

Belum tentu. Ketersediaan dapat berubah mengikuti produksi warga, kegiatan wisata, dan bahan yang tersedia. Sebaiknya tanyakan kepada pengelola desa wisata atau warga saat berkunjung.