Ada tempat yang lebih menarik dijelajahi dari balik jendela kendaraan, tetapi Hilisimaetano bukan salah satunya. Kampung adat di Kecamatan Maniamolo, Nias Selatan ini justru paling terasa ketika dijelajahi perlahan dengan berjalan kaki.
Melalui Walking Tour Kampung Adat Hilisimaetano, pengunjung bisa memperhatikan detail rumah tradisional, batu megalitik, ruang bersama masyarakat, tempat atraksi Fahombo, hingga aktivitas warga yang sering terlewat ketika kunjungan dilakukan terburu-buru.
Profil Jadesta Kementerian Pariwisata menyebut permukiman tradisional Hilisimaetano atau boto mbanua membentang kurang lebih 500 meter dan menjadi salah satu kampung tradisional terpanjang di Kepulauan Nias.
Desa ini juga masih menyimpan rumah adat, batu megalitik, serta berbagai tradisi seperti lompat batu, Hoho, Faluaya, dan Famadaya Harimao. Untuk berjalan santai sambil berhenti mendengar cerita, memotret, dan melihat detail arsitektur, sisihkan sekitar 1,5-2 jam.
Durasi tersebut bukan jadwal resmi, melainkan perkiraan praktis agar perjalanan tidak berubah menjadi sekadar datang, foto, lalu pulang.
Mulai Walking Tour dari Kawasan Masuk Desa
Bagian pertama perjalanan sebaiknya dimulai perlahan dari kawasan masuk kampung.
Jadesta mencatat adanya batu megalitik di jalan masuk Desa Hilisimaetano, sehingga pengunjung sebenarnya sudah bertemu jejak sejarah bahkan sebelum menjelajahi deretan rumah adat lebih jauh.
Jangan langsung melewatinya hanya karena ingin cepat sampai ke lokasi Fahombo.
Batu-batu tersebut merupakan bagian dari lanskap budaya desa. Dalam tradisi Nias Selatan, benda megalitik dapat berkaitan dengan status sosial, musyawarah, upacara, atau penghormatan terhadap tokoh tertentu.
Saat berlangsung kegiatan penyambutan resmi, perjalanan budaya juga dapat bermula dari Bawagöli. Dalam peresmian Desa Wisata Hilisimaetano pada Mei 2025, rombongan tamu disambut dari Bawagöli sebelum prosesi dilanjutkan menuju naha gorahua mbanua.
Detail seperti ini membuat walking tour lebih menarik karena ruang kampung ternyata memiliki fungsi, bukan hanya menjadi jalur lewat.
Menyusuri Deretan Rumah Adat Nias Selatan
Setelah melewati bagian awal kampung, daya tarik utama mulai terlihat: rumah-rumah tradisional yang membentuk karakter Hilisimaetano.
Museum Pusaka Nias menyebut Hilisimaetanö sebagai salah satu kampung tradisional besar di bagian selatan Pulau Nias. Museum tersebut mencatat sekitar 70 rumah tradisional masih terdapat di desa ini bersama sejumlah megalit dan pahatan batu unik.
Angka tersebut merupakan inventarisasi yang ditampilkan museum dan tidak harus dianggap sebagai jumlah persis saat ini karena kondisi rumah dapat berubah.
Saat berjalan, coba jangan hanya memperhatikan atap.
Lihat bagian bawah rumah. Struktur kayu, tiang vertikal dan diagonal, lantai yang ditinggikan, serta sambungan antarbagian memperlihatkan karakter arsitektur tradisional Nias.
Beberapa rumah masih menjadi tempat tinggal keluarga. Jadi walking tour di sini berbeda dengan mengunjungi kompleks museum.
Minta izin sebelum memasuki rumah atau memotret penghuni dari dekat. Menghormati ruang privat membuat pengalaman wisata tetap nyaman bagi warga yang memang menjalani aktifitas sehari-hari di kampung tersebut.
Berhenti di Batu Megalitik dan Cari Cerita di Baliknya
Titik berikutnya adalah peninggalan megalitik.
Museum Pusaka Nias mencatat beberapa megalit dan pahatan unik masih bertahan di Hilisimaetano. Salah satu benda yang didokumentasikan bahkan berupa kursi kepala adat dengan sandaran tangan berbentuk tangan yang memegang senjata.
Benda semacam ini jauh lebih menarik ketika dilihat bersama penjelasan pemandu.
Tanpa cerita, wisatawan mungkin hanya melihat sebongkah batu.
Dengan cerita, pertanyaannya berubah: siapa yang boleh duduk di sana? Apa kedudukannya dalam masyarakat? Mengapa batu ditempatkan di depan rumah tertentu?
Inilah alasan Museum Pusaka Nias menyarankan perjalanan ke kampung-kampung tradisional kawasan Maniamölö dilakukan bersama pemandu lokal. Selain membantu menemukan lokasi, pemandu dapat menjelaskan konteks yang sulit diketahui hanya dari tampilan fisiknya.
Jangan menaiki atau memindahkan batu hanya demi mendapatkan angle foto yang berbeda.
Singgah di Ruang Bersama Kampung
Walking tour Hilisimaetano juga sebaiknya memberi waktu untuk memperhatikan ruang di antara rumah, bukan hanya bangunannya.
Dalam acara resmi 2025, naha gorahua mbanua menjadi lokasi penyambutan Faluaya Siöligö/Fame Afo sebelum pertunjukan Hombo Batu. Hal tersebut memperlihatkan bahwa ruang kampung masih berfungsi sebagai tempat aktivitas komunal dan budaya.
Di sinilah kita mulai memahami tata kampung dengan cara berbeda.
Jalan atau halaman yang terlihat kosong sebenarnya dapat berubah menjadi ruang tari, tempat pertemuan, lokasi penyambutan tamu, atau tempat masyarakat berkumpul.
Kalau kebetulan datang saat tidak ada acara, suasananya mungkin jauh lebih tenang.
Itu bukan kekurangan.
Justru saat tenang, kita bisa melihat hubungan antara rumah, halaman, batu, dan kehidupan warga tanpa tertutup keramaian pertunjukan.
Area Fahombo Menjadi Salah Satu Stop Utama
Tentu sulit menyelesaikan perjalanan tanpa singgah di tempat Fahombo atau lompat batu.
Tradisi ini berawal dari keterampilan para pemuda untuk melewati pagar atau benteng pertahanan ketika perseteruan antarkampung masih terjadi.
Di Hilisimaetano, ada ciri menarik: pelompat dapat menghunus pedang saat berada di puncak lompatan, menggambarkan kesiapan prajurit menghadapi lawan setelah melewati pertahanan.
Namun jangan datang dengan asumsi selalu ada orang yang melompat setiap saat.
Atraksi biasanya perlu dikoordinasikan. Jadesta memang memasukkan Fahombo dalam paket wisata personal Hilisimaetano, bersama penyambutan tradisional, tur rumah adat dan batu megalitik, pakaian adat, jajanan, serta kopi lokal.
Kalau sedang tidak ada pertunjukan, area Hombo Batu tetap menarik sebagai bagian dari cerita kampung.
Hilisimaetano juga memiliki sanggar yang melatih anak-anak menggunakan replika batu dengan ukuran lebih rendah sebagai proses regenerasi pelompat.
Jadi Fahombo bukan atraksi yang muncul tiba-tiba ketika wisatawan datang. Ada proses latihan panjang di belakangnya.
Perhatikan Kehidupan yang Berjalan di Antara Situs Budaya
Salah satu kesalahan saat mengunjungi kampung adat adalah terlalu fokus mencari “objek wisata”.
Hilisimaetano adalah desa hidup.
Di antara rumah tradisional dan peninggalan lama, masyarakat tetap bekerja, memasak, berbincang, menjalankan usaha, bertani, dan melakukan kegiatan sehari-hari.
Profil Jadesta mencatat mayoritas masyarakat Hilisimaetano bekerja sebagai petani sawah maupun pekebun karet dan kelapa. Desa ini juga memiliki tradisi anyaman, pahatan, ukiran, serta pandai besi atau Manöfa.
Karena itu, walking tour yang menarik justru menyisakan waktu untuk melihat sisi keseharian.
Kalau menemukan pengrajin yang sedang bekerja dan situasinya memungkinkan, tanyakan kepada pemandu apakah pengunjung boleh melihat lebih dekat.
Hindari menjadikan warga sebagai “objek foto”. Percakapan yang sopan biasanya memberi cerita jauh lebih berkesan daripada foto candid tanpa izin.
Akhiri dengan Kopi, Jajanan, atau Suvenir
Setelah berjalan sepanjang kampung, bagian akhir tidak harus berupa monumen lain.
Duduk dan menikmati produk warga justru menjadi penutup yang pas.
Paket resmi Hilisimaetano memasukkan jajanan dan Kopi Hilisimaetano sebagai bagian dari pengalaman wisata. Pengunjung juga dapat mengenakan pakaian adat dan memperoleh suvenir dalam paket tertentu.
Hilisimaetano memiliki kios suvenir, kuliner, tempat makan, kamar mandi umum, area parkir, serta beberapa fasilitas wisata lain yang tercantum dalam Jadesta.
Momen istirahat memberi kesempatan melihat kembali apa yang baru saja dilewati.
Alih-alih langsung masuk kendaraan dan pergi, coba duduk beberapa menit sambil minum kopi lokal.
Sering kali cerita dari pemandu atau warga saat istirahat justru menjadi bagian paling menarik dari perjalnan.
Mau Lebih Jauh? Sambungkan dengan Trekking Hiliamaigila
Kalau masih punya energi, walking tour kampung bisa diperpanjang menjadi perjalanan yang lebih panjang.
Jadesta menawarkan paket sightseeing dan trekking menuju Puncak Hiliamaigila, yang disebut sebagai kampung kuno asal Hilisimaetanö. Perjalanan dapat diteruskan ke Lubo Gana’a, lokasi yang dikaitkan dengan legenda babi emas.
Ini bukan lagi sekadar berjalan santai di dalam kampung.
Karena itu, siapkan alas kaki yang lebih baik, air minum, dan gunakan pendamping lokal.
Hiliamaigila penting karena profil resmi Hilisimaetano menyebutnya sebagai asal komunitas Hilisimaetano sebelum masyarakat kemudian menyebar ke kampung lain.
Dengan mengambil rute tambahan tersebut, wisatawan tidak hanya melihat desa yang sekarang, tetapi juga mengikuti sebagian jejak sejarah perpindahan masyarakatnya.
Tips agar Walking Tour Lebih Nyaman
Permukiman tradisional Hilisimaetano membentang sekitar 500 meter, sehingga rute utamanya relatif nyaman dilakukan dengan berjalan kaki. Namun berhenti di banyak titik membuat perjalanan jauh lebih lama daripada sekadar menempuh jaraknya.
Gunakan alas kaki nyaman, bawa air minum, dan hindari datang saat tubuh sedang terburu-buru mengejar banyak destinasi.
Pemandu lokal sangat disarankan.
Bukan karena jalur kampung sulit, tetapi karena nilai terbesarnya terletak pada cerita. Sebuah rumah atau batu yang terlihat biasa dapat mempunyai arti berbeda setelah diketahui sejarahnya.
Jika ingin melihat Fahombo atau pertunjukan budaya tertentu, hubungi pengelola desa sebelumnya. Paket resmi memang menyediakan atraksi budaya, tetapi ketersediaan penampil tidak berarti setiap pertunjukan berlangsung sepanjang hari.
Dan satu hal paling sederhana: jangan buru-buru.
Walking tour memang seharusnya lambat.
Walking Tour Kampung Adat Hilisimaetano adalah cara sederhana untuk melihat Nias Selatan lebih dekat.
Permukiman tradisional sepanjang sekitar 500 meter ini menyatukan rumah adat, batu megalitik, ruang komunal, Fahombo, kerajinan, dan kehidupan masyarakat dalam satu lanskap budaya.
Keistimewaannya bukan pada banyaknya “spot Instagram”, tetapi pada hubungan antara setiap bagian kampung. Rumah masih dihuni, batu menyimpan cerita sosial, dan tradsi lama tetap diwariskan kepada generasi baru.
Sisihkan sekitar dua jam jika ingin menjelajah dengan santai, gunakan pemandu lokal bila memungkinkan, dan jangan sekadar mengejar foto.
Berhentilah untuk mendengar cerita, menikmati kopi, atau berbincang dengan warga. Dengan cara itu, Hilisimaetano terasa bukan hanya seperti destinasi yang dikunjungi, tetapi sebuah kampung yang perlahan mulai dipahami.
FAQ
1. Berapa panjang Kampung Adat Hilisimaetano?
Profil Jadesta mencatat permukiman tradisional Hilisimaetano membentang sekitar 500 meter dan disebut sebagai salah satu kampung tradisional terpanjang di Kepulauan Nias.
2. Apa saja yang bisa dilihat saat walking tour?
Pengunjung dapat melihat rumah adat, batu megalitik, ruang kampung, area Fahombo, kerajinan lokal, serta kehidupan masyarakat. Paket resmi desa juga memasukkan tur rumah adat dan megalitik sebagai kegiatan wisata.
3. Apakah perlu menggunakan pemandu lokal?
Tidak selalu wajib, tetapi sangat disarankan. Museum Pusaka Nias merekomendasikan pemandu lokal ketika mengunjungi kampung-kampung tradisional kawasan Maniamölö karena banyak cerita dan konteks budaya sulit dipahami hanya dengan melihat bendanya.
4. Apakah Fahombo selalu bisa disaksikan?
Belum tentu. Fahombo tersedia sebagai atraksi wisata, tetapi pertunjukannya sebaiknya dikoordinasikan lebih dulu dengan pengelola Desa Wisata Hilisimaetano.
5. Bisakah walking tour dilanjutkan dengan trekking?
Bisa. Jadesta mencantumkan paket trekking menuju Puncak Hiliamaigila dan Lubo Gana’a sebagai salah satu pengalaman wisata Hilisimaetano.