Pengalaman Menginap di Desa Wisata Hilisimaetano yang Berkesan

Datang ke Hilisimaetano beberapa jam sebenarnya sudah cukup untuk melihat rumah adat, batu megalitik, dan mungkin menyaksikan Fahombo.

Tetapi kalau ingin memahami bagaimana desa ini benar-benar hidup, menginap satu malam memberikan pengalaman yang jauh berbeda.

Pengalaman menginap di Desa Wisata Hilisimaetano bukan tentang mencari resor mewah dengan kolam renang dan sarapan prasmanan.

Daya tariknya justru berada pada suasana kampung, interaksi dengan warga, rumah-rumah tradisional, makanan sederhana, serta kesempatan melihat kehidupan Nias Selatan setelah rombongan wisata harian mulai pulang.

Hilisimaetano memang sudah mengembangkan homestay sebagai bagian dari amenitas pariwisatanya.

Jadesta Kementerian Pariwisata saat ini mencantumkan Home Stay Zevan sebagai salah satu pilihan akomodasi, sementara laporan 2024 menyebut terdapat sekitar enam homestay di desa tersebut.

Menariknya, kategori homestay Hilisimaetano juga pernah memperoleh Juara Harapan II Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022.

Jadi, seperti apa rasanya jika memilih tidur di tengah desa adat ini?

Menginap Membuat Hilisimaetano Terasa Berbeda

Kunjungan singkat biasanya membuat wisatawan bergerak cepat.

Datang, melihat rumah adat, mengambil foto, menonton lompat batu, kemudian melanjutkan perjalanan.

Padahal Hilisimaetano merupakan permukiman tradisional yang membentang sekitar 500 meter dan masih menjadi tempat tinggal masyarakat, bukan kawasan museum yang kosong setelah jam kunjungan berakhir.

Ketika menginap, ritmenya berubah.

Wisatawan punya waktu berjalan lebih santai, memperhatikan detail rumah, berbincang dengan pemilik homestay, atau sekadar duduk menikmati suasana kampung menjelang malam.

Pagi hari juga memberikan pengalaman berbeda. Aktivitas warga mulai berlangsung, sementara suasana desa biasanya belum seramai ketika pengunjung harian berdatangan.

Justru momen-momen sederhana seperti itulah yang sering membuat homestay desa terasa lebih personal dibanding hotel biasa.

Homestay Warga Menjadi Pilihan Utama

Konsep akomodasi Hilisimaetano berpusat pada homestay atau rumah penduduk.

Pada persiapan Maniamolo Fest 2026, pemerintah desa menyebut rumah-rumah warga telah disiapkan bagi pengunjung yang ingin bermalam.

Toilet umum juga tersedia di tengah kampung, sementara masyarakat mendapat sosialisasi mengenai pelayanan dan kebersihan untuk menerima tamu.

Jadesta saat ini mencantumkan Home Stay Zevan dengan harga Rp300.000. Karena harga dan ketersediaan dapat berubah, angka ini sebaiknya dijadikan gambaran awal dan dikonfirmasi langsung sebelum melakukan perjalanan.

Sementara itu, publikasi pada 2024 menyebut Hilisimaetano memiliki sekitar enam homestay dengan harga pada saat itu berkisar Rp150.000 per malam.

Perbedaan harga tersebut wajar karena waktu publikasi, fasilitas, tipe kamar, dan masing-masing pengelola dapat berbeda.

Karena itu, wisatawan sebaiknya tidak datang dengan asumsi semua penginapan memiliki tarif dan fasilitas seragam.

Prestasi Homestay Hilisimaetano Cukup Menarik

Pengembangan homestay di Hilisimaetano ternyata bukan sekadar pelengkap.

Dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022, Hilisimaetano meraih Juara Harapan II kategori Homestay.

Pada 2024, Kepala Desa Hilisimaetano juga menyampaikan bahwa homestay desa mendapat pengakuan sebagai salah satu yang terbaik dari sekitar 1.600 desa yang terdaftar dalam penilaian yang ia rujuk.

Pengalaman pengelola lokal bahkan ikut digunakan sebagai referensi di luar Nias Selatan.

Pada pelatihan pengelolaan pondok wisata di Nias Barat tahun 2024, salah satu narasumbernya adalah Noverianto Waoma, praktisi homestay dari Desa Wisata Hilisimaetano.

Hal ini menunjukkan bahwa pengelolan homestay di desa mulai dipandang sebagai bagian serius dari ekosistem pariwisata.

Namun tetap perlu diingat: homestay desa berbeda dengan hotel berbintang.

Harapan utamanya adalah keramahan, pengalaman lokal, kebersihan, dan kesempatan tinggal dekat dengan masyarakat.

Bangun Pagi di Tengah Kampung Adat

Salah satu alasan terbaik untuk bermalam adalah bisa menikmati desa sejak pagi.

Hilisimaetano dikenal sebagai salah satu desa adat tua Nias Selatan dengan rumah tradisional, batu megalitik, Fahombo, Hoho, tari perang, kerajinan, dan berbagai tradisi lainnya yang masih dipertahankan.

Menginap membuat wisatawan punya waktu melihat unsur tersebut tanpa harus mengejar jadwal.

Setelah bangun, perjalanan bisa dimulai dengan berjalan kaki menyusuri kampung. Perhatikan bentuk rumah kayu, susunan ruang desa, batu-batu lama, dan aktivitas masyrakat yang mulai menjalani pekerjaan sehari-hari.

Kalau ingin melanjutkan lebih jauh, Hilisimaetano juga mempunyai kawasan persawahan yang disebut memiliki potensi agrowisata.

Suasana pagi seperti ini mungkin tidak menghadirkan atraksi spektakuler.

Namun justru kesederhanaannya membuat pengalaman terasa berbeda.

Sehari Bisa Diisi dengan Wisata Budaya

Bermalam juga memungkinkan wisatawan mencoba aktivitas desa tanpa terburu-buru.

Paket wisata personal Hilisimaetano mencantumkan kegiatan seperti penyambutan tradisional, berkeliling melihat rumah adat dan batu megalitik, menyaksikan lompat batu, mengenakan pakaian adat, serta menikmati jajanan dan kopi lokal.

Ada pula pilihan sightseeing dan trekking menuju Puncak Hiliamaigila, yang disebut sebagai desa kuno asal Hilisimaetano, kemudian menuju Lubo Gana’a yang berkaitan dengan legenda lokal. Paket tersebut juga mencantumkan makan siang berupa ikan bakar dan kelapa muda.

Bagi yang tidak ingin trekking, ada aktivitas lain.

Jadesta mencantumkan Fahoho, atraksi sanggar cilik, pencak silat, wisata persawahan, dan belajar kerajinan tradisional sebagai beberapa pengalaman yang dapat dikembangkan untuk wisatawan.

Ketersediaannya tentu sebaiknya dikonfirmasi terlebih dahulu karena pertunjukan budaya tidak selalu berlangsung setiap hari.

Malam Hari Memberi Ruang untuk Berinteraksi

Saat menginap di desa wisata, bagian paling menarik tidak selalu aktivitas yang tercantum dalam paket.

Percakapan santai dengan pemilik homestay bisa menjadi pengalaman tersendiri.

Wisatawan dapat bertanya tentang rumah adat, pertanian, sejarah keluarga, tradisi Fahombo, perubahan desa setelah berkembangnya pariwisata, atau cerita Maniamolo yang tidak selalu ditemukan dalam brosur.

Inilah salah satu kelebihan homestay berbasis masyarakat.

Tuan rumah bukan hanya penyedia tempat tidur. Mereka juga bisa menjadi pintu pertama untuk memahami lingkungan tempat kita menginap.

Namun interaksi harus tetap natural.

Tidak semua keluarga ingin selalu diwawancarai atau difoto. Hormati waktu pribadi mereka dan tanyakan izin sebelum memotret penghuni maupun bagian dalam rumah.

Kopi dan Jajanan Lokal Melengkapi Pengalaman

Menginap di Hilisimaetano juga memberi alasan untuk mencoba kuliner secara lebih santai.

Jadesta mencantumkan kopi dan aneka jajanan sebagai produk wisata desa. Dalam paket personal, pengunjung bahkan mendapatkan kesempatan menikmati jajanan serta Kopi Hilisimaetano setelah mengikuti kegiatan budaya.

Kopi lokal tersebut dikenal melalui cara sangrai menggunakan pembakaran kayu.

Jadi setelah seharian berjalan keliling desa, secangkir kopi bersama jajanan sederhana bisa menjadi penutup hari yang menyenangkan.

Saat Maniamolo Fest 2026, pemerintah desa juga menyiapkan stan UMKM yang menjual kuliner dan suvenir bagi pengunjung.

Bagi wisatawan, membeli makanan dan produk lokal mempunyai dampak sederhana tetapi langsung: uang yang dibelanjakan lebih banyak berputar di dalam komunitas.

Fasilitasnya Sebaiknya Dilihat dengan Ekspektasi Realistis

Hilisimaetano adalah desa wisata berkembang, bukan kompleks resor.

Jadesta mencatat fasilitas kawasan berupa area parkir, balai pertemuan, kamar mandi umum, kios suvenir, kuliner, tempat makan, dan sejumlah sarana wisata lainnya.

Saat Maniamolo Fest 2026, toilet umum di tengah kampung dan area parkir di pintu timur serta barat desa juga disiapkan untuk pengunjung.

Namun fasilitas setiap homestay dapat berbeda.

Sebelum memesan, tanyakan apakah kamar memiliki kamar mandi dalam atau luar, apakah tersedia air panas, bagaimana akses listrik dan sinyal, apakah sarapan termasuk, serta seperti apa aturan rumah.

Hal kecil seperti ini bisa mencegah ekspektasi yang keliru.

Membawa perlengkapan mandi pribadi, power bank, obat rutin, sandal, dan pakaian nyaman juga cukup membantu untuk perjalanan ke desa.

Waktu Terbaik Menginap Bisa Disesuaikan dengan Tujuan

Tidak ada satu waktu yang cocok untuk semua wisatawan.

Jika ingin suasana lebih tenang, kunjungan di luar festival memungkinkan pengalaman desa yang lebih santai. Sebaliknya, jika ingin melihat pertunjukan budaya dalam skala besar, periode acara seperti Maniamolo Fest dapat menjadi waktu yang menarik.

Pada 2026, festival tersebut berlangsung 14–21 Juni dan membuat desa menyiapkan homestay, volunteer, toilet, parkir, kuliner, serta fasilitas tambahan bagi pengunjung.

Konsekuensinya, desa tentu lebih ramai.

Karena jadwal event berubah setiap tahun, jangan mengandalkan tanggal lama untuk perjalanan berikutnya. Konfirmasi agenda dan ketersediaan akomodsi langsung kepada pengelola desa wisata sebelum berangkat.

Jadesta mencantumkan kontak Pokdarwis Hilisimaetano Heritage pada profil resmi desa.

Menginap dengan Etika di Desa Adat

Wisatawan perlu mengingat bahwa Hilisimaetano adalah tempat tinggal masyarakat.

Rumah, halaman, batu megalitik, serta ruang kampung bukan sekadar properti wisata.

Karena itu, berpakaian sopan, menjaga suara pada malam hari, meminta izin sebelum masuk ke rumah adat, tidak memanjat peninggalan megalitik, dan mengikuti arahan tuan rumah merupakan kebiasaan sederhana yang sangat penting.

Jika ada aturan adat yang dijelaskan warga, ikuti dengan baik.

Menginap di homestay juga berarti berbagi ruang dengan keluarga atau lingkungan masyarakat. Jadi jangan menuntut suasana dan privasi seperti hotel bisnis.

Pendekatan seperti ini justru membuat pengalaman terasa lebih bermakna.

Kita datang bukan untuk membuat desa menyesuaikan diri sepenuhnya dengan wisatawan, tetapi untuk belajar hidup beberapa waktu mengikuti ritme tempat yang dikunjungi.

Pengalaman menginap di Desa Wisata Hilisimaetano menawarkan sesuatu yang sulit didapat dari kunjungan singkat.

Homestay membuat wisatawan punya waktu menikmati kampung ketika suasana lebih tenang, berbincang dengan warga, mencoba makanan lokal, berjalan di antara rumah adat, dan memahami budaya Nias Selatan secara perlahan.

Hilisimaetano juga memiliki rekam jejak menarik dalam pengembangan homestay, termasuk penghargaan kategori Homestay pada ADWI 2022. Namun fasilitas tetap sebaiknya dipahami sebagai akomodasi berbasis masyarakat, bukan hotel berbintang.

Jika merencanakan perjalanan ke Nias Selatan, pertimbangkan mengalokasikan setidaknya satu malam di Hilisimaetano.

Hubungi pengelola lebih dulu, cek ketersediaan kamar dan aktivitas, lalu datang dengan rasa ingin tahu. Sering kali, pengalaman terbaik justru muncul setelah wisatawan harian pulang.

FAQ

1. Apakah ada homestay di Desa Hilisimaetano?

Ya. Jadesta saat ini mencantumkan Home Stay Zevan, dan pemerintah desa juga menyebut rumah-rumah penduduk digunakan sebagai homestay bagi wisatawan.

2. Berapa harga homestay di Hilisimaetano?

Jadesta saat ini menampilkan Home Stay Zevan mulai Rp300.000, sementara laporan tahun 2024 pernah menyebut kisaran sekitar Rp150.000 per malam untuk sejumlah homestay. Harga aktual sebaiknya dikonfirmasi sebelum memesan.

3. Apa aktivitas yang bisa dilakukan saat menginap?

Wisatawan dapat menjelajahi rumah adat dan batu megalitik, melihat Fahombo, mencoba pakaian adat, menikmati kopi dan jajanan, trekking, wisata persawahan, hingga belajar kerajinan tergantung paket dan ketersediaan.

4. Apakah homestay Hilisimaetano pernah mendapat penghargaan?

Ya. Hilisimaetano meraih Juara Harapan II kategori Homestay dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022.

5. Apakah perlu memesan homestay terlebih dahulu?

Sebaiknya ya, terutama saat festival atau musim kunjungan. Jumlah akomodasi terbatas dan fasilitas tiap homestay dapat berbeda, sehingga konfirmasi langsung dengan pengelola akan membuat persiapan lebih mudah.