Di tengah deretan desa adat yang tersebar di Pulau Nias, Hilisimaetano punya cerita yang menarik untuk ditelusuri.
Desa ini bukan sekadar tempat tinggal masyarakat, tetapi juga ruang hidup yang menyimpan rumah tradisional, batu megalitik, tradisi lisan, hingga sistem sosial yang diwariskan lintas generasi.
Secara administratif, Hilisimaetano berada di Kecamatan Maniamolo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.
Namun, jauh sebelum pembagian wilayah pemerintahan seperti sekarang, kawasan ini sudah tumbuh sebagai permukiman masyarakat Nias Selatan dengan struktur adatnya sendiri.
Bahkan, Kementerian Pariwisata melalui Jadesta menyebut Hilisimaetano sebagai salah satu desa adat tertua di Kabupaten Nias Selatan. Karena itulah, membahas sejarah Desa Hilisimaetano tidak cukup hanya melihat kapan desa ini masuk dalam struktur administrasi modern.
Ceritanya juga harus dibaca melalui susunan kampung, peninggalan megalitik, rumah adat, kedudukan tokoh adat, serta perubahan yang terjadi ketika Hilisimaetano berkembang menjadi desa wisata.
Hilisimaetano, Salah Satu Desa Adat Tua di Nias Selatan
Tidak banyak sumber tertulis yang mencatat tahun pasti berdirinya Hilisimaetano. Sumber resmi dan penelitian yang tersedia lebih banyak menjelaskan keberadaan desa melalui peninggalan budaya serta kesinambungan kehidupan adatnya.
Karena itu, cukup sulit menentukan satu tanggal sebagai “hari lahir” Hilisimaetano.
Meski demikian, statusnya sebagai kampung tua terlihat dari keberadaan batu-batu megalitik dan pola permukiman tradisional yang masih bisa ditemukan hingga sekarang.
Jadesta mencatat adanya batu megalitik di jalan masuk desa, rumah adat yang masih terpelhara, serta berbagai atraksi budaya tradisional.
Museum Pusaka Nias juga memasukkan Hilisimaetanö sebagai salah satu kampung tradisional besar di bagian selatan Pulau Nias. Sumber tersebut mencatat bahwa desa ini masih memiliki puluhan rumah tradisional serta berbagai megalit dan pahatan batu yang unik.
Jejak seperti ini penting karena sejarah masyarakat Nias pada masa lalu tidak selalu dituliskan dalam dokumen. Banyak cerita justru diwariskan melalui batu, arsitektur, silsilah keluarga, tradisi adat, dan cerita dari generasi ke generasi.
Batu Megalitik sebagai Rekaman Masa Lalu
Salah satu hal paling menarik ketika mempelajari Hilisimaetano adalah peninggalan megalitiknya. Batu di desa adat Nias bukan sekadar benda dekoratif.
Dalam kehidupan masyarakat tradisional, batu dapat berkaitan dengan upacara, kedudukan sosial, pertemuan adat, maupun peringatan terhadap seseorang atau suatu peristiwa.
Publikasi UNESCO mengenai tradisi megalitik Pulau Nias mencantumkan Hilisimaetano sebagai salah satu lokasi yang memiliki peninggalan megalitik. Hal ini menempatkan desa tersebut dalam lanskap budaya megalitik Nias yang lebih luas.
Beberapa bentuk peninggalannya berupa susunan batu, tempat duduk batu, hingga elemen megalitik yang berada di sekitar kawasan permukiman tradisional.
Keberadaan benda-benda tersebut menunjukkan bahwa kehidupan sosial masyarakat masa lalu memiliki hubungan erat dengan simbol status dan ruang upacara.
Menariknya, peninggalan itu tidak terpisah jauh dari kehidupan masyarakat. Banyak di antaranya berada di lingkungan kampung sehingga sejarah terasa seperti menjadi bagian dari aktifitas sehari-hari.
Rumah Adat dan Pola Kampung Hilisimaetano
Selain batu megalitik, rumah tradisional menjadi bagian penting dalam memahami sejarah Desa Hilisimaetano. Kawasan Nias Selatan dikenal dengan rumah adat berbentuk persegi panjang yang memiliki struktur kayu khas.
Rumah-rumah tradisional di Hilisimaetano membentuk lingkungan kampung yang memperlihatkan cara masyarakat masa lalu mengatur ruang hidupnya.
Museum Pusaka Nias menyebut masih terdapat sekitar 70 rumah tradisional di Hilisimaetanö dalam inventarisasi yang dimuat di situsnya.
Jumlah rumah tradisional dapat berubah karena usia bangunan, renovasi, pembangunan rumah baru, dan proses konservasi.
Bahkan laporan yang lebih baru mengenai pelestarian situs menyebut sekitar 50 rumah tradisional berada di kawasan cagar budaya Hilisimaetano dan membutuhkan perhatian konservasi.
Artinya, rumah adat bukan hanya aset wisata. Ia merupakan arsip arsitektur yang menceritakan bagaimana masyarakat Nias Selatan menyesuaikan bangunan dengan lingkungan, kondisi sosial, sekaligus ancaman gempa yang memang menjadi bagian dari kehidupan di Pulau Nias.
Dari Satu Wilayah Besar Menjadi Banyak Desa
Perjalanan Hilisimaetano juga menarik jika dilihat dari perkembangan administratifnya. Data BPS Kabupaten Nias Selatan memberikan gambaran bahwa wilayah Hilisimaetano pada masa lalu jauh lebih luas dibandingkan desa induk yang dikenal sekarang.
Saat Kecamatan Maniamolo berada pada masa awal pemekaran, kecamatan tersebut hanya memiliki empat desa utama, salah satunya Hilisimaetano. Karena wilayah Hilisimaetano dianggap begitu luas, desa tersebut kemudian dimekarkan menjadi sepuluh desa.
Desa-desa hasil perkembangan wilayah itu antara lain Hilisimaetano, Samadaya Hilisimaetano, Idala Jaya Hilisimaetano, Pekan Hilisimaetano, Ndraso Hilisimaetano, Bonia Hilisimaetano, Sotoo Hilisimaetano, Hiliaurifa Hilisimaetano, Eho Hilisimaetano, dan Faomasi Hilisimaetano.
Nama Hilisimaetano yang tetap muncul pada sejumah desa hasil pemekaran menunjukkan kuatnya posisi kawasan induk ini dalam identitas geografis setempat.
Pemekaran administratif boleh mengubah batas pemeritahan, tetapi hubungan sejarah dan nama lama masih dapat dibaca melalui desa-desa tersebut.
Adat Tetap Berjalan di Tengah Pemerintahan Modern
Hal menarik lainnya dari Hilisimaetano adalah keberadaan dua lapisan kepemimpinan yang berjalan berdampingan: struktur pemerintahan desa modern dan struktur adat.
Penelitian mengenai pengembangan potensi wisata Hilisimaetano menemukan bahwa pemerintah desa bekerja sama dengan tokoh-tokoh adat seperti si’ulu dan si’ila dalam menjaga serta mengembangkan kehidupan budaya setempat.
Desa juga memiliki Lembaga Adat Desa yang keberadaannya diatur melalui peraturan desa.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Hilisimaetano bukan sesuatu yang berhenti pada masa lalu. Tradisi masih memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakat modern.
Berbagai kesenian dan tradisi seperti Fahombo atau lompat batu, Faluaya atau tari perang, Hoho, Fogaele, Fo’ere, serta Famadaya Harimao masih menjadi bagian dari identitas budaya desa.
Dengan kata lain, masyarakat tidak sekadar menyimpan benda bersejarah, tetapi juga mempertahankan pengetahuan dan praktik budaya yang memberi makna pada benda-benda tersebut.
Tradisi Lama yang Terus Beradaptasi
Pelestarian budaya di Hilisimaetano juga terlihat dari tradisi yang berkaitan langsung dengan rumah adat. Salah satunya adalah Fondrundrukhu Omo, tradisi membersihkan rumah yang telah dilakukan masyarakat sejak lama.
Menurut keterangan Kepala Desa Hilisimaetano yang dimuat RRI, masyarakat sudah terbiasa membersihkan rumah kayu menjelang Natal dan pergantian tahun setidaknya sejak beberapa generasi lalu.
Dalam perkembangannya, kebiasaan tersebut kemudian diangkat menjadi kegiatan budaya dan bagian dari festival desa.
Contoh tersebut menunjukkan bagaimana tradisi dapat berubah bentuk tanpa harus kehilangan makna dasarnya. Sesuatu yang awalnya merupakan kebiasaan keluarga kemudian dikemas menjadi kegiatan bersama dan sarana memperkenalkan budaya kepada pengunjung.
Proses adaptasi seperti inilah yang membuat sejarah Hilisimaetano terus bergerak, bukan sekadar menjadi cerita lama yang hanya dibaca di buku.
Hilisimaetano Memasuki Era Desa Wisata
Dalam beberapa tahun terakhir, Hilisimaetano semakin dikenal sebagai destinasi wisata budaya. Desa ini tercatat dalam jaringan Desa Wisata Indonesia dan pernah masuk dalam program Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022.
Penelitian mengenai pengembangan pariwisasta Hilisimaetano juga mencatat keterlibatan pemerintah desa, pemerintah kabupaten, serta pemerintah pusat dalam pengembangan fasilitas dan kegiatan wisata.
Perkembangan tersebut berlanjut ketika Desa Wisata Hilisimaetano yang menjadi desa binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sibolga diresmikan pada 9 Mei 2025.
Kegiatan tersebut dihadiri Pemerintah Kabupaten Nias Selatan dan menjadi salah satu tahap baru dalam pengembangan desa sebagai tujuan wisata budaya.
Pariwisata tentu membuka peluang ekonomi, tetapi sekaligus membawa tantangan. Rumah adat, batu megalitik, tata kampung, dan tradisi lokal perlu dijaga agar tidak sekadar berubah menjadi dekorasi bagi wisatawan.
Justru kekuatan utama Hilisimaetano terletak pada kehidupan masyarakatnya yang masih berlangsung di tengah warisan budaya tersebut.
Mengapa Sejarah Hilisimaetano Penting Dijaga?
Nilai Hilisimaetano bukan hanya berada pada usia sebuah rumah atau seberapa besar batu megalitik yang dimilikinya. Nilai terbesarnya justru muncul dari hubungan antara masyarakat, ruang kampung, tradisi, dan peninggalan leluhur.
Jika salah satu bagian itu hilang, kita mungkin masih melihat bangunan yang indah, tetapi kehilangan cerita yang membuatnya berarti.
Karena itu, dokumentasi sejarah lisan dari para tetua, pemeliharaan rumah tradisional, pencatatan fungsi setiap megalit, serta pendidikan budaya kepada generasi muda menjadi sangat penting. Pengembangan wisata juga sebaiknya berjalan beriringan dengan konservasi.
Dengan pendekatan seperti itu, Hilisimaetano tidak hanya dikenal sebagai tempat untuk berfoto atau melihat lompat batu, tetapi sebagai desa hidup yang menyimpan perjalanan panjang masyarakat Nias Selatan.
Sejarah Desa Hilisimaetano di Nias Selatan memperlihatkan perjalanan sebuah kampung adat yang mampu bertahan sambil terus beradaptasi. Batu megalitik, rumah tradisional, struktur adat, tradisi budaya, serta jejak pemekaran wilayah menjadi bagian dari cerita panjang desa ini.
Tidak adanya satu catatan pasti mengenai tahun berdirinya justru menunjukkan pentingnya membaca sejarah melalui banyak sumber, mulai dari peninggalan fisik hingga cerita masyarakat.
Kini Hilisimaetano memasuki babak baru sebagai desa wisata. Tantangannya adalah memastikan pembangunan tidak menghilangkan karakter asli yang membuat desa ini istimewa.
Jika berkunjung ke Nias Selatan, luangkan waktu untuk melihat Hilisimaetano lebih dekat-bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai ruang hidup tempat sejarah Nias masih terasa sampai hari ini.
FAQ
1. Di mana Desa Hilisimaetano berada?
Desa Hilisimaetano berada di Kecamatan Maniamolo, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Desa ini juga menjadi salah satu pusat penting di wilayah Kecamatan Maniamolo.
2. Apakah Hilisimaetano termasuk desa adat tertua di Nias Selatan?
Ya. Jadesta Kementerian Pariwisata menyebut Hilisimaetano sebagai salah satu desa adat tertua di Kabupaten Nias Selatan.
3. Apa peninggalan sejarah yang ada di Hilisimaetano?
Beberapa peninggalan utamanya adalah rumah adat Nias Selatan, batu-batu megalitik, susunan kampung tradisional, serta berbagai tradisi budaya yang masih diwariskan masyarakat.
4. Apakah ada tradisi lompat batu di Hilisimaetano?
Ada. Fahombo atau lompat batu menjadi salah satu atraksi budaya yang tetap diperkenalkan dan dikembangkan di Hilisimaetano.
5. Apakah Hilisimaetano sudah menjadi desa wisata?
Ya. Hilisimaetano tercatat sebagai Desa Wisata Indonesia dan pengembangan desa wisatanya terus dilakukan bersama pemerintah serta berbagai pihak pendukung.