Hilisimaetano biasanya dikenal lewat rumah adat Nias, batu megalitik, Fahombo, dan berbagai atraksi budaya yang masih dipertahankan masyarakat.
Namun sedikit menjauh dari kawasan permukiman tradisional, ada pemandangan lain yang menunjukkan wajah berbeda desa ini: hamparan persawahan dan kehidupan para petani.
Potensi Agrowisata Hilisimaetano dan hamparan persawahannya bukan sekadar ide yang muncul karena lanskapnya terlihat hijau.
Profil resmi Desa Wisata Hilisimaetano menyebut kawasan persawahan di desa ini sebagai salah satu yang terbesar di Nias Selatan sehingga memiliki potensi kuat dikembangkan sebagai kawasan agrowisata.
Mayoritas masyarakatnya juga bekerja sebagai petani sawah serta pekebun karet dan kelapa.
Artinya, wisata pertanian di Hilisimaetano punya modal yang menarik: sawahnya memang bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, bukan lanskap buatan khusus untuk wisatawan.
Jika dikembangkan dengan tepat, wisatawan nantinya tidak hanya datang melihat budaya Nias, tetapi juga memahami bagaimana masyarakat memperoleh pangan, mengolah hasil kebun, dan menjalani kehidupan di sekitar sawah.
Hilisimaetano Dikenal sebagai Salah Satu Lumbung Padi Nias
Pertanian punya posisi penting dalam kehidupan Hilisimaetano.
Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat desa ini sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Kepulauan Nias. Sumber yang sama menyebut sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani, baik di sawah maupun pada perkebunan seperti kelapa dan karet.
Informasi serupa muncul dalam kegiatan Relawan Bakti BUMN 2024. Hilisimaetano dipilih sebagai salah satu lokasi program karena memiliki kekuatan budaya sekaligus potensi desa, dengan mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani sawah, kebun karet, dan kebun kelapa.
Jadi persawahan di sini bukan sekadar tempat yang cantik untuk mengambil foto.
Sawah menjadi bagian dari ekonomi rumah tangga, ketahanan pangan, serta ritme kehidupan masyarakat. Musim tanam dan panen ikut menentukan aktifitas petani dari waktu ke waktu.
Justru latar kehidupan nyata seperti inilah yang dapat menjadi kekuatan sebuah destinasi agrowisata.
Hamparan Sawah Menjadi Sisi Lain Desa Adat
Ketika Hilisimaetano masuk 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia pada 2022, perhatian publik banyak tertuju pada kekayaan adatnya. Desa ini memiliki permukiman tradisional yang membentang sekitar 500 meter, rumah adat, peninggalan megalitik, dan berbagai pertunjukan budaya.
Namun dalam kunjungan Menparekraf pada tahun yang sama, kawasan persawahan juga mendapat perhatian khusus.
Dokumentasi visitasi tersebut menyebut Hilisimaetano memiliki kawasan sawah yang luas di Nias Selatan dan dinilai mempunyai peluang besar untuk dikembangkan menjadi agrowisata.
Potensi pertanian bahkan dikaitkan dengan penguatan ketahanan pangan serta pengembangan desa wisata berkelanjutan.
Kombinasi ini cukup unik.
Pada satu perjalanan, wisatawan berpotensi melihat Omo Hada dan batu megalitik, menyaksikan Fahombo, lalu bergerak menuju kawasan pertanian untuk melihat kehidupan petani.
Dengan begitu, cerita Hilisimaetano menjadi lebih lengkap. Desa tidak hanya dilihat melalui masa lalunya, tetapi juga melalui cara masyarakat hidup hari ini.
Seperti Apa Agrowisata Hilisimaetano Bisa Dikembangkan?
Saat ini, profil resmi Jadesta lebih banyak menyebut persawahan sebagai potensi agrowisata, bukan menunjukkan bahwa seluruh kawasan telah beroperasi sebagai objek agrowisata lengkap dengan paket aktivitas pertanian reguler.
Perbedaan ini penting agar wisatawan tidak datang dengan ekspektasi yang keliru. Namun peluang pengembagannya cukup luas.
Wisatawan, misalnya, dapat diajak berjalan menyusuri jalur pertanian bersama pemandu lokal sambil mengenal sistem sawah, musim tanam, jenis hasil pertanian, dan kehidupan keluarga petani.
Pada waktu yang tepat, pengalaman tersebut dapat dikembangkan menjadi kegiatan melihat proses penanaman atau panen.
Aktivitas lain tidak harus dibuat terlalu rumit.
Menikmati sarapan lokal di tepi sawah, belajar mengenali bahan pangan, melihat pengolahan hasil kebun, atau sekadar mengikuti petani menuju lahan dapat menjadi pengalaman yang autentik.
Kuncinya adalah tidak mengubah petani menjadi sekadar pemeran pertunjukan. Agrowisata justru lebih menarik ketika wisatawan melihat aktifitas pertanian sebagaimana memang dilakukan sehari-hari.
Sawah Juga Bisa Menjadi Ruang Belajar
Agrowisata yang baik tidak berhenti pada pemandangan.
Ada banyak pengetahuan yang dapat diperkenalkan melalui sawah, terutama kepada anak-anak dan wisatawan yang sehari-hari hidup di perkotaan. Mereka bisa belajar dari mana beras berasal sebelum masuk karung dan dijual di pasar.
BPS Kabupaten Nias Selatan masih menempatkan pertanian sebagai salah satu sektor penting yang dicatat secara khusus dalam publikasi Kecamatan Maniamolo Dalam Angka 2025.
Hilisimaetano sendiri merupakan ibu kota Kecamatan Maniamolo dan memiliki luas administratif sekitar 5 km² menurut publikasi tersebut.
Kawasan pertanian Maniamolo juga tidak hanya menghasilkan tanaman pangan.
Data BPS 2024 pada tingkat kecamatan mencatat produksi buah seperti pisang, mangga, durian, dan pepaya. Misalnya, produksi pisang tercatat 212,04 kuintal dan mangga 97,24 kuintal pada 2024.
Data ini merupakan angka Kecamatan Maniamolo, bukan khusus Desa Hilisimaetano, tetapi menunjukkan bahwa lanskap pertanian kawasan sekitarnya cukup beragam.
Keragaman tersebut membuka peluang aktivitas edukasi yang lebih luas daripada sekadar melihat padi.
Tantangan Air Menunjukkan Pertanian Bukan Sekadar Pemandangan
Di balik persawahan hijau ada persoalan nyata yang dihadapi petani, salah satunya ketersediaan air.
Contoh terbaru terlihat di Idala Jaya Hilisimaetano, desa tetangga yang masih berada di Kecamatan Maniamolo. Pada 2026, pemerintah setempat memperoleh program irigasi pompa yang ditargetkan dapat mengairi sekitar 239 hektare sawah.
Program tersebut dirancang karena sebagian lahan mengalami kekurangan air pada periode Januari hingga Juni yang dapat menurunkan hasil bahkan menyebabkan gagal panen.
Data ini tidak berarti kondisi semua sawah di Desa Hilisimaetano persis sama.
Namun contoh dari kawasan sekitar memperlihatkan bahwa membangun wisata berbasis pertanian harus tetap menempatkan kebutuhan petani sebagai prioritas.
Irigasi, produktivitas, akses lahan, dan keberlanjutan sumber air jauh lebih penting daripada membuat spot foto.
Jika persoalan pertanian ikut diperhatikan, agrowisata justru dapat menjadi sarana edukasi tentang bagaimana pangan diproduksi dan tantangan yang harus dihadapi petani.
Dari Sawah Menuju Kuliner Lokal
Hubungan pertanian dengan pariwisata menjadi semakin menarik ketika hasilnya masuk ke meja makan.
Desa Wisata Hilisimaetano sudah memiliki sejumlah produk kuliner yang dibuat masyarakat, seperti pisang goreng, Godo-godo, Galametura, Mie Gomak, dan tahu isi.
Jadesta juga mencatat Kopi Hilisimaetano, kopi produksi desa yang disangrai menggunakan metode pembakaran kayu dan biasa dinikmati bersama jajanan lokal.
Konsep agrowisata dapat mempertemukan dua sisi tersebut.
Pengunjung bisa memulai perjalanan dengan melihat lanskap pertanian, kemudian mengakhirinya dengan menikmati produk desa. Pengalaman seperti ini terasa lebih utuh dibanding hanya berhenti di sawah selama beberapa menit untuk berfoto.
Bahkan aktivitas sederhana seperti minum kopi sambil memandang area pertanian dapat mempunyai nilai wisata jika cerita produknya dijelaskan dengan baik.
Dari mana bahan berasal, siapa yang mengolah, dan bagaimana masyarakat biasa menikmatinya menjadi bagian dari pengalaman.
Agrowisata Bisa Memperpanjang Waktu Tinggal Wisatawan
Salah satu tantangan destinasi budaya adalah membuat wisatawan tidak datang sebentar lalu langsung pergi.
Hilisimaetano sebenarnya mempunyai modal untuk menawarkan pengalaman yang lebih panjang. Jadesta mencatat desa ini mempunyai atraksi Fahombo, Faluaya, Famadaya Harimao, Hoho, kerajinan, kuliner, homestay, hingga produk lokal.
Persawahan dapat menjadi pelengkap yang menghubungkan semuanya.
Pagi hari wisatawan bisa berjalan di kawasan sawah. Siangnya kembali ke kampung adat untuk melihat rumah tradisional dan batu megalitik. Sore hari menikmati kopi atau jajanan lokal, kemudian bermalam di homestay.
Model seperti itu berpotensi membuat manfaat wisata tersebar lebih luas.
Bukan hanya pelaku pertunjukan budaya yang mendapat pemasukan, tetapi juga petani, pemilik homestay, pemandu lokal, pengolah makanan, pengrajin, dan UMKM.
Pengembangan Desa Wisata Hilisimaetano juga terus mendapat dukungan.
Pada Mei 2025, desa ini diresmikan sebagai desa wisata binaan Bank Indonesia Perwakilan Sibolga dengan fokus antara lain pada pengembangan UMKM, pariwisata, produk unggulan, pelatihan, sarana, dan pemanfaatan teknologi pemasaran.
Menjaga Sawah agar Tidak Kalah oleh Pariwisata
Ada satu hal yang perlu diperhatikan jika agrowisata Hilisimaetano berkembang: sawah jangan sampai kehilangan fungsi utamanya.
Tujuan utama lahan pertanian tetap menghasilkan pangan dan menopang kehidupan petani.
Fasilitas wisata idealnya dibangun tanpa menghabiskan lahan produktif. Jalur pengunjung, tempat istirahat, area makan, maupun spot foto sebaiknya mengikuti bentang lahan yang sudah ada dan tidak mengganggu kegiatan petani.
Pengunjung juga perlu memahami etika sederhana.
Berjalanlah di jalur yang diperbolehkan, jangan menginjak tanaman, jangan memasuki lahan tanpa izin, dan hindari meninggalkan sampah. Sawah yang terlihat cantik sebenarnya merupakan tempat seseorang bekerja.
Pendekatan seperti inilah yang membuat agrowisata bisa benar-benar berkelanjutan, bukan sekadar tren sesaat.
Kapan Waktu Menarik Melihat Persawahan?
Pemandangan sawah berubah mengikuti musim tanam.
Saat tanaman masih muda, warna hijau biasanya mendominasi. Mendekati panen, lanskap perlahan berubah menjadi warna yang lebih kekuningan. Setelah panen, penampilannya tentu berbeda lagi.
Karena informasi kalender tanam khusus Hilisimaetano tidak tersedia secara konsisten dalam sumber publik, wisatawan sebaiknya menanyakan kondisi sawah kepada pengelola Desa Wisata Hilisimaetano sebelum datang jika tujuan utamanya ingin melihat hamparan padi pada fase tertentu.
Ini lebih baik daripada mengandalkan foto yang mungkin dibuat pada musim berbeda.
Selain membantu mendapatkan pengalaman yang sesuai, bertanya kepada pengelola lokal juga membuka kesempatan mengetahui apakah ada kegiatan pertanian atau agenda desa yang bisa dikunjungi saat itu.
Agrowisata Hilisimaetano dan hamparan persawahannya menawarkan peluang untuk melihat Nias Selatan dari sisi yang berbeda.
Di balik rumah adat, Fahombo, dan batu megalitik, terdapat kehidupan masyarakat yang sangat dekat dengan sawah, kebun kelapa, karet, serta berbagai hasil pertanian.
Hilisimaetano bahkan tercatat sebagai salah satu lumbung padi penting di Kepulauan Nias dan memiliki kawasan persawahan yang dinilai potensial untuk agrowisata.
Potensi tersebut akan semakin menarik jika dikembangkan tanpa menggeser fungsi utama pertanian. Wisata bisa menjadi tambahan nilai bagi petani melalui pengalaman edukasi, kuliner, produk lokal, dan pemanduan.
Kalau berkunjung ke Hilisimaetano, jangan hanya berhenti di kampung adat. Sisihkan waktu untuk melihat kawasan pertaniannya dan mengenal orang-orang yang bekerja di balik hamparan hijau tersebut.
FAQ
1. Apakah Hilisimaetano memiliki kawasan persawahan?
Ya. Profil resmi Desa Wisata Hilisimaetano menyebut desa ini memiliki kawasan persawahan yang besar dan menjadi salah satu lumbung padi penting di Kepulauan Nias.
2. Apakah agrowisata Hilisimaetano sudah beroperasi sebagai objek wisata khusus?
Jadesta saat ini menyebut kawasan persawahan Hilisimaetano berpotensi dikembangkan sebagai agrowisata. Jadi, lebih tepat melihatnya sebagai potensi dan bagian dari pengembangan desa wisata daripada menganggap seluruh kawasan sudah berupa objek agrowisata lengkap.
3. Apa yang bisa dilakukan wisatawan di sekitar persawahan?
Potensinya mencakup berjalan menyusuri kawasan pertanian, mengenal kehidupan petani, belajar proses budidaya padi, menikmati lanskap, hingga menggabungkannya dengan kuliner dan produk lokal. Ketersediaan aktivitas aktual sebaiknya dikonfirmasi kepada pengelola desa wisata.
4. Apa mata pencaharian utama masyarakat Hilisimaetano?
Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani, termasuk petani sawah serta pekebun karet dan kelapa.
5. Apa yang bisa dikunjungi selain persawahan?
Hilisimaetano juga memiliki rumah adat Nias, batu megalitik, Fahombo, Faluaya, Famadaya Harimao, Hoho, kerajinan tradisional, kuliner, dan produk kopi lokal.