Di antara rumah adat, batu megalitik, dan atraksi Fahombo, Desa Hilisimaetano di Nias Selatan menyimpan satu tradisi yang mungkin belum sepopuler lompat batu.
Namanya Famadaya Harimao, sebuah prosesi budaya yang menghadirkan patung menyerupai harimau dalam arak-arakan besar masyarakat.
Kalau hanya melihat tampilannya, tradisi ini mungkin terlihat seperti pertunjukan membawa patung keliling kampung. Padahal ceritanya jauh lebih dalam.
Tradisi Famadaya Harimao Hilisimaetano berkaitan dengan tolak bala, penyucian kehidupan masyarakat, hingga pembaruan dan penetapan hukum adat. Dalam prosesi tersebut juga dikenal Lawölö Fatao, Fo’ere atau doa-doa kuno, serta keterlibatan para prajurit desa.
Tradisi ini juga mengalami perubahan besar mengikuti perkembangan agama dan kehidupan masyarakat Nias Selatan. Ritual yang dahulu mempunyai dimensi kepercayaan kini lebih banyak dihidupkan sebagai warisan budaya dan seni pertunjukan.
Menariknya lagi, tradisi tersebut resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2024.
Lalu, sebenarnya apa makna di balik patung harimau tersebut?
Apa Itu Famadaya Harimao?
Famadaya Harimao secara sederhana dapat dipahami sebagai prosesi mengarak patung yang menyerupai harimau. Dalam dokumentasi Desa Wisata Hilisimaetano, patung tersebut disebut Lawölö Fatao.
Jadesta Kementerian Pariwisata menjelaskan Famadaya Harimao di Hilisimaetano sebagai ritual tolak bala sekaligus penetapan hukum adat yang berlaku di desa dan wilayah sekitarnya. Prosesi melibatkan Fo’ere atau doa-doa kuno, perarakan Lawölö Fatao, serta rombongan prajurit.
Jadi, patung harimau bukan sekadar properti pertunjukan.
Ia berada di tengah sebuah rangkaian adat yang dahulu berhubungan dengan kehidupan seluruh komunitas.
Museum Pusaka Nias mencatat bahwa bentuk lama tradisi ini dikenal dengan nama Famatö Harimao. Patung diusung mengelilingi wilayah sebelum akhirnya dibuang ke sungai sebagai bagian dari proses penyucian.
Mengapa Harimau Padahal Tidak Ada Harimau di Nias?
Ini salah satu bagian paling menarik dari tradisi tersebut.
Pulau Nias bukan habitat alami harimau. Bahkan Museum Pusaka Nias menjelaskan bahwa karena masyarakat lokal tidak benar-benar mengenal harimau sebagai satwa yang hidup di pulau tersebut, bentuk Adu Harimao atau patung harimau justru terlihat seperti perpaduan anjing dan kucing.
Namun yang penting bukan ketepatan anatomi patungnya.
Harimau digunakan sebagai simbol kekuatan dan kewibawaan. Dalam penjelasan budayawan Nias Selatan Ariston Manao kepada RRI pada Agustus 2026, patung tersebut menggambarkan kewibawaan hukum adat dan konsekuensi yang harus diterima jika seseorang melanggarnya.
Dengan kata lain, Lawölö Fatao bekerja sebagai bahasa simbol.
Masyarakat tidak membutuhkan patung yang realistis. Yang dibutuhkan adalah sebuah bentuk yang dapat membawa pesan tentang kekuatan aturan, ketertiban, serta tanggung jawab bersama.
Berawal dari Famatö Harimao dalam Kepercayaan Lama
Sebelum perkembangan agama Kristen di Nias Selatan, tradisi ini dikenal sebagai Famatö Harimao dan mempunyai dimensi religius yang lebih kuat.
Museum Pusaka Nias mencatat bahwa upacara tersebut dahulu dilakukan setiap tujuh atau empat belas tahun.
Setelah patung diarak, usungannya dipatahkan dan patung dibuang ke sungai. Masyarakat meyakini berbagai kesalahan dan beban selama tahun-tahun sebelumnya ikut hanyut bersamanya.
Sumber mengenai Hilisimaetano secara khusus menyebut siklus 14 tahun untuk ritual penyucian dan pembaruan hukum adat di kawasan Maniamölö.
Perbedaan angka tujuh dan empat belas tahun dalam berbagai sumber sebaiknya tidak langsung dianggap bertentangan.
Tradisi ini berkembang di beberapa wilayah adat Nias Selatan, sehingga pola penyelenggaraan dan penamaannya dapat berbeda menurut öri atau lingkungan adat masing-masing.
Yang jelas, ritual tersebut bukan kegiatan tahunan biasa.
Pelaksanaannya menandai momen penting dalam perjalanan sosial sebuah komunitas.
Hilisimaetano dan Tradisi Maniamölö
Hilisimaetano punya posisi khusus karena desa ini merupakan pusat Öri Maniamölö, sebuah lingkungan adat yang mencakup Hilisimaetano dan kawasan sekitarnya.
Jadesta mencatat bahwa fungsi si’ulu, si’ila, dan masyarakat umum dalam menjaga tata adat masih menjadi bagian identitas desa tersebut.
Ada satu detail terminologi yang menarik.
Dalam penggunaan wisata dan dokumentasi resmi desa, prosesi Hilisimaetano banyak disebut Famadaya Harimao.
Namun budayawan Nias Selatan Ariston Manao menjelaskan kepada RRI pada 15 Agustus 2026 bahwa tradisi sejenis mempunyai nama berbeda menurut wilayah adat.
Di Öri Maniamölö, yang mencakup Hilisimaetano dan sekitarnya, ia menyebut istilah Famadaya Saembu. Sementara Famadaya Harimao digunakan di Öri Fau dan Famadaya Hasi dikenal di Öri To’ene.
Artinya, pembaca perlu memahami bahwa istilah Famadaya Harimao kini juga sering digunakan sebagai nama yang lebih luas dan mudah dikenali untuk pertunjukan tersebut.
Di tingkat lokal, masyrakat dapat mempunyai istilah dan varian tradisi yang lebih spesifik.
Lawölö Fatao Diarak Bersama Para Prajurit
Bagian yang paling mudah dikenali dari pertunjukan ini adalah perarakan Lawölö Fatao.
Dalam versi yang ditampilkan di Hilisimaetano, patung dibawa melewati kampung dan diiringi para prajurit. Fo’ere atau doa-doa kuno juga menjadi bagian dari rangkaian yang terdokumentasi dalam profil resmi atraksi desa wisata.
Dalam tradisi lama yang dijelaskan RRI, masyarakat juga mempunyai bagian prosesi yang sangat simbolis.
Para perempuan dapat berdiri di jendela rumah sambil mengetukkan tempurung pada dinding. Bunyi yang disebut jara-jara tersebut dimaknai sebagai pelepasan dendam, perselisihan, dan berbagai beban antarsesama.
Prosesi kemudian mencapai tahap pembuangan patung.
Dalam bentuk ritual masa lalu, Lawölö Fatao ditenggelamkan atau dibuang ke sungai. Tindakan tersebut melambangkan ikut terbuangnya penyakit, kesialan, kelalaian, serta berbagai noda kehidupan sehingga masyarakat dapat memulai fase baru.
Jadi, perjalanan patung pada dasarnya menggambarkan perjalanan menuju pembaruan.
Bukan Hanya Tolak Bala, tetapi Juga Pembaruan Hukum Adat
Bagian inilah yang membuat Famadaya Harimao berbeda dari sekadar ritual penyucian.
Tradisi tersebut juga berhubungan dengan Fondrakö, sistem hukum dan aturan adat masyarakat Nias.
Menurut keterangan budayawan yang dihimpun RRI pada 2026, masyarakat dahulu mengadakan sidang untuk menilai aturan mana yang masih perlu dipertahankan, mana yang perlu dikurangi, dan bagaimana konsekuensi pelanggaran harus diterapkan.
Setelah keputusan dibuat, perarakan patung menjadi bagian dari pengumuman bahwa aturan yang diperbarui harus dipatuhi bersama.
Jadesta juga secara khusus menyebut fungsi Famadaya Harimao Hilisimaetano dalam penetapan hukum-hukum adat.
Ini memperlihatkan bahwa tradisi bukan hanya berbicara tentang dunia spiritual.
Ada fungsi sosial dan bahkan semacam tata kelola masyarakat di dalamnya.
Bayangkan tradisi tersebut sebagai kombinasi antara musyawarah besar, pembaruan aturan, penyucian komunitas, dan pengumuman kepada publik. Semuanya dirangkum melalui simbol, doa, musik, gerakan, dan arak-arakan.
Dari Ritual Sakral Menjadi Pertunjukan Budaya
Seiring berkembangnya agama Kristen di Nias, bentuk lama Famatö Harimao tidak lagi dilakukan sebagaimana sebelumnya.
Museum Pusaka Nias menjelaskan bahwa ritual lama akhirnya berhenti dan kemudian direvitalisasi sebagai kegiatan budaya dengan nama Famadaya Harimao. Unsur perarakan dipertahankan, tetapi praktik yang terkait langsung dengan sistem kepercayaan lama tidak lagi menjadi pusatnya.
Perubahan ini juga dijelaskan dalam dokumentasi RRI tahun 2026. Pergeseran nama dari Famatö Harimao menuju Famadaya Harimao dipahami sebagai perubahan dari ritual kepercayaan menjadi tradisi budaya.
Transformasi tersebut menarik karena memperlihatkan bagaimana sebuah tradsi bisa bertahan tanpa harus mempertahankan seluruh fungsi awalnya.
Masyarakat tetap dapat mengenang sejarah, simbol, gerakan, musik, dan pesan sosialnya sambil menyesuaikannya dengan keyakinan serta kehidupan modern.
Pelstarian dengan cara seperti ini membuat budaya terus hidup, bukan membekukannya seperti benda museum.
Famadaya Harimao Resmi Menjadi Warisan Budaya Takbenda
Pengakuan penting datang pada 2024.
Dalam sidang penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 19-22 Agustus 2024, Famadaya Harimao ditetapkan sebagai salah satu WBTb Indonesia dari Nias Selatan. Bersamanya, Köfö-köfö dan Afore juga memperoleh penetapan pada tahun tersebut.
Status ini penting karena memberikan pengakuan terhadap nilai sejarah dan budaya tradisi tersebut.
Namun pengakuan administratif bukan akhir dari pekerjaan pelestarian.
Warisan budaya hanya benar-benar bertahan kalau masih ada orang yang memahami ceritanya, mengetahui bagaimana prosesi dilakukan, menguasai Fo’ere, mampu membuat Lawölö Fatao, serta menjelaskan maknanya kepada generasi berikutnya.
Karena itu, dokumentas dari para tetua adat dan pelibatan anak muda menjadi sama pentingnya dengan festival.
Famadaya Harimao di Maniamolo Fest
Kini salah satu ruang penting untuk melihat tradisi tersebut adalah Maniamolo Fest di Hilisimaetano.
Pada Maniamolo Fest 2026 yang berlangsung 14–21 Juni 2026, pembukaan festival memasukkan Fanibo Lawolo Fatao (Famadaya Harimao) sebagai salah satu agenda utama.
Festival tersebut juga menghadirkan Maena, Faluaya, Fahombo, Hoho, kerajinan, dan berbagai pertunjukan budaya lainnya.
Ini menunjukkan fungsi baru Famadaya Harimao.
Dahulu prosesi dilakukan dalam konteks pembaruan kehidupan dan hukum adat pada interval tertentu. Kini bentuk pertunjukannya juga menjadi sarana pendidikan budaya dan daya tarik pariwisata.
Kehadiran wisatawan tentu membuka peluang ekonomi bagi Hilisimaetano.
Namun hal yang paling penting adalah memastikan pertunjukan tidak kehilangan narasi. Wisatawan perlu diberi penjelasan tentang Lawölö Fatao, Fondrakö, Fo’ere, dan perubahan ritual dari masa ke masa.
Jika hanya melihat arak-arakan tanpa konteks, sebagian besar maknanya akan hilang.
Mengapa Tradisi Ini Penting untuk Generasi Muda?
Famadaya Harimao menyimpan pelajaran yang sebenarnya masih relevan.
Di balik simbol harimau terdapat gagasan mengenai tanggung jawab terhadap aturan, penyelesaian konflik, meninggalkan dendam, memperbaiki kesalahan, dan memulai kehidupan baru.
Bentuk penerapannya tentu sudah berubah.
Masyarakat modern tidak perlu menghidupkan kembali semua praktik masa lalu untuk memahami nilai yang diwariskan leluhur. Yang perlu dijaga adalah sejarah dan alasan mengapa tradisi tersebut pernah menjadi penting.
Generasi muda juga mempunyai peluang membawa cerita ini ke media digital, dokumenter, kegiatan sekolah, festival, hingga pariwisata berbasis komunitas.
Dengan begitu, Famadaya Harimao tidak hanya muncul ketika ada acara besar.
Ia tetap menjadi bagian dari identitas budaya Hilisimaetano dan Maniamölö.
Tradisi Famadaya Harimao Hilisimaetano memperlihatkan bagaimana masyarakat Nias Selatan menggunakan simbol budaya untuk mengatur kehidupan bersama.
Lawölö Fatao tidak hanya diarak sebagai patung, tetapi dahulu berkaitan dengan penyucian, tolak bala, pembaruan hukum adat, serta harapan meninggalkan berbagai beban kehidupan.
Seiring perkembangan agama dan zaman, bentuk ritualnya berubah menjadi tradisi budaya. Pengakuannya sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2024 semakin menegaskan pentingnya pelestarian tradisi ini.
Jika suatu hari berkunjung ke Hilisimaetano dan berkesempatan menyaksikan Famadaya Harimao, jangan hanya melihat patung dan para prajuritnya.
Dengarkan cerita di balik prosesi tersebut. Di sanalah kita bisa memahami bagaimana hukum, kepercayaan, seni, dan kehidupan sosial masyarakat Nias pernah bertemu dalam satu tradisi.
FAQ
1. Apa itu Famadaya Harimao?
Famadaya Harimao adalah tradisi perarakan patung menyerupai harimau yang dalam konteks Hilisimaetano berkaitan dengan tolak bala, doa kuno, serta pembaruan dan penetapan hukum adat.
2. Apa nama patung yang digunakan dalam Famadaya Harimao?
Patung yang diarak dikenal sebagai Lawölö Fatao. Patung tersebut menjadi simbol penting dalam rangkaian prosesi budaya.
3. Seberapa sering ritual Famadaya Harimao dilakukan?
Sumber Museum Pusaka Nias mencatat bentuk lama Famatö Harimao dilakukan setiap tujuh atau empat belas tahun, sedangkan dokumentasi Hilisimaetano menyebut siklus 14 tahun dalam konteks Maniamölö. Kini bentuk pertunjukannya juga dapat ditampilkan dalam festival budaya.
4. Apakah Famadaya Harimao masih menjadi ritual keagamaan?
Tidak dalam bentuk lamanya. Praktik tersebut telah mengalami transformasi dan sekarang lebih banyak dilestarikan sebagai warisan serta pertunjukan budaya.
5. Apakah Famadaya Harimao sudah menjadi Warisan Budaya Takbenda?
Ya. Famadaya Harimao resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2024.