Berjalan memasuki Hilisimaetano terasa seperti melihat dua zaman yang hidup berdampingan.
Di antara rumah modern, jalan desa, dan aktivitas warga sehari-hari, masih berdiri deretan rumah kayu tradisional yang menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Nias Selatan.
Rumah Adat Nias di Desa Hilisimaetano bukan hanya menarik karena bentuknya yang unik.
Bangunan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat masa lalu memahami lingkungan, memilih material, mengatur ruang keluarga, sekaligus menciptakan struktur yang mampu bertahan di kawasan rawan gempa.
Museum Pusaka Nias menyebut Hilisimaetanö sebagai salah satu kampung tradisional terbesar di bagian selatan Pulau Nias.
Dalam inventarisasi yang ditampilkan museum, desa ini masih memiliki sekitar 70 rumah tradisional, meskipun sebagian kawasan kini telah berkembang dengan bangunan modern.
Keberadaan rumah-rumah tersebut membuat Hilisimaetano berbeda dari desa wisata biasa.
Wisatawan tidak datang hanya untuk melihat sebuah bangunan tua, tetapi memasuki lingkungan tempat arsitektur, megalit, Fahombo, dan kehidupan masyarakat masih saling terhubung.
Lalu, apa yang membuat rumah tradisional Hilisimaetano begitu istimewa?
Hilisimaetano Masih Menyimpan Puluhan Rumah Tradisional
Hilisimaetano berada di Kecamatan Maniamolo, Kabupaten Nias Selatan. Desa ini dikenal sebagai salah satu kawasan yang masih mempertahankan banyak unsur budaya tradisional, mulai dari rumah adat, batu megalitik, seni pertunjukan, hingga tradisi lompat batu.
Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat bahwa masih terdapat banyak rumah tradisional dan batu megalitik yang terjaga di desa tersebut.
Berbagai aktivitas budaya seperti Faluaya, Hoho, Famadaya Harimao, Maena, tari elang, dan Fahombo juga tetap menjadi bagian dari kehidupan budaya desa.
Museum Pusaka Nias memberikan gambaran lebih spesifik. Hilisimaetanö disebut sebagai salah satu kampung tradisional besar di Nias Selatan dengan sekitar 70 rumah tradisional serta beberapa megalit dan pahatan batu yang unik.
Angka itu sebaiknya dipahami sebagai inventarisasi pada saat data museum disusun, bukan jumlah pasti untuk setiap tahun.
Rumah kayu bisa rusak, direnovasi, atau mengalami perubahan fungsi. Karena itulah, yang lebih penting daripada sekadar menghitung jumlahnya adalah melihat apakah karakter kampung dan pengetahuan membangunnya masih dapat dipertahankan.
Mengenal Omo Hada, Rumah Tradisional Masyarakat Nias
Rumah tradisional Nias secara umum dikenal dengan istilah Omo Hada.
Dalam kajian mengenai arsitektur tahan gempa Pulau Nias, Omo Hada digunakan untuk menyebut rumah adat yang umumnya dihuni masyarakat, sedangkan rumah berukuran besar yang berkaitan dengan kelompok bangsawan atau pemimpin dikenal sebagai Omo Sebua.
Bentuk rumah tradisional juga berbeda antara wilayah utara dan selatan Pulau Nias.
Kajian arsitektur tersebut menjelaskan bahwa rumah tradisional Nias Selatan cenderung memiliki bentuk dasar persegi panjang, berbeda dengan tipe rumah di bagian utara yang lebih banyak dikenal dengan bentuk oval atau membulat.
Karena Hilisimaetano berada dalam lingkungan budaya Nias Selatan, rumah-rumah tradisionalnya berada dalam tradisi arsitetkur selatan tersebut.
Namun sebuah Omo Hada bukan sekadar bangunan untuk tidur dan berlindung dari hujan.
Rumah menjadi ruang keluarga, simbol identitas, hasil keterampilan tukang tradisional, dan bagian dari struktur sosial kampung. Karena itu, ketika sebuah rumah adat hilang, yang berkurang bukan hanya satu bangunan kayu, tetapi juga sebagian pengetahuan masyarakat.
Struktur Kayu yang Dirancang Mengikuti Kondisi Alam
Salah satu aspek paling menarik dari rumah tradisional Nias adalah konstruksinya.
Nias merupakan kawasan yang berulang kali mengalami gempa besar. Penelitian mengenai ketahanan rumah tradisional Nias mencatat gempa merusak pernah terjadi pada 1843, 1861, serta rangkaian gempa besar 2004 dan 2005.
Kondisi tersebut membentuk pengetahuan masyarakat dalam menciptakan tempat tinggal yang menyesuaikan diri dengan lingkungan seismik.
Rumah tradisional dibuat menggunakan kayu kuat dengan sistem struktur yang relatif lentur. Rumah juga berbentuk panggung, sehingga lantainya berada di atas permukaan tanah.
Berbeda dengan bangunan beton yang mengandalkan kekakuan, konstruksi kayu mempunyai kemampuan bergerak ketika menerima guncangan. Sistem sambungan tradisional memungkinkan bagian struktur bekerja bersama saat gempa terjadi.
Beberapa konstruksi tradisional juga menggunakan batu sebagai tumpuan pada dasar bangunan. Penelitian ketahanan rumah Nias menjelaskan bahwa penggunaan batu pendukung pada dasar struktur membantu mengurangi energi gempa yang diteruskan menuju badan bangunan.
Menariknya, teknologi seperti ini dikembangkan jauh sebelum masyarakat mengenal perhitungan struktur modern.
Tiang dan Penyangga Membuat Rumah Terlihat Berbeda
Kalau melihat rumah adat Nias Selatan dari samping atau bagian bawah, perhatian biasanya langsung tertuju pada banyaknya elemen kayu penyangga.
Tiang tidak hanya dipasang secara vertikal. Sejumlah elemen kayu juga bekerja sebagai pengaku dan penopang sehingga struktur rumah terlihat padat di bagian bawahnya.
Sistem tersebut bukan sekadar ornamen.
Kayu-kayu penyangga membantu mendistribusikan beban dan memberikan fleksibilitas ketika bangunan bergerak.
Penelitian mengenai rumah tahan gempa Nias menyimpulkan bahwa rumah tradisional yang telah dibangun selama berabad-abad memiliki model struktur khas yang membuatnya tidak mudah runtuh ketika mengalami guncangan kuat.
Saat gempa besar 2004 dan 2005 mengguncang kawasan Nias, penelitian tersebut mencatat banyak rumah tradisional tetap berdiri dan mampu melindungi penghuninya.
Ini bukan berarti semua Omo Hada otomatis kebal terhadap gempa.
Usia kayu, kondisi sambungan, kerusakan akibat rayap, perubahan struktur, serta kurangnya perawatan tetap berpengaruh besar. Namun desain dasarnya menunjukkan tingkat pemahaman lokal yang mengagumkan terhadap kondisi alam.
Rumah Adat Juga Menunjukkan Status Sosial
Arsitektur tradisional Nias tidak bisa dipisahkan dari struktur sosial masyarakat.
Ukuran rumah, posisi, bentuk tertentu, hingga hubungannya dengan ruang kampung dapat menunjukkan kedudukan pemiliknya.
Di sejumlah permukiman tradisional Nias Selatan, bangunan yang berkaitan dengan pemimpin atau bangsawan dapat memiliki skala yang lebih besar dibanding rumah biasa.
UNESCO dalam dokumentasi Situs Bawomataluo menjelaskan bahwa pada tradisi arsitektur Nias Selatan, bentuk dan skala rumah dapat menjadi salah satu penanda status sosial pemiliknya.
Rumah yang besar dan cara masuk tertentu, misalnya, dapat berkaitan dengan kedudukan si’ulu atau si’ila.
Konteks tersebut membantu kita membaca rumah-rumah tradisional Hilisimaetano dengan cara berbeda.
Rumah bukan kumpulan kayu tanpa cerita.
Dahulu, siapa yang tinggal di dalamnya, hubungan pemilik dengan masyarakat, posisi rumah di kampung, serta benda-benda megalitik di sekitarnya dapat memiliki makna sosial tersendiri.
Museum Pusaka Nias bahkan mendokumentasikan sebuah kursi kepala adat di Hilisimaetano yang memiliki sandaran tangan berbentuk tangan yang memegang senjata.
Detail kecil seperti ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara rumah, seni ukir, kekuasaan, dan kehidupan adat.
Rumah dan Batu Megalitik Membentuk Satu Lanskap Budaya
Keunikan Hilisimaetano semakin terasa karena rumah tradisionalnya tidak berdiri sendirian.
Di kawasan desa juga terdapat berbagai peninggalan megalitik dan pahatan batu. Museum Pusaka Nias mencatat keberadaan beberapa megalit unik di Hilisimaetano, sementara Jadesta juga memasukkan batu megalitik sebagai salah satu kekayaan budaya utama desa.
Kombinasi inilah yang membuat kampung adat Nias Selatan menarik.
Rumah adalah tempat hidup masyarakat, sedangkan batu dapat berhubungan dengan upacara, kedudukan sosial, sejarah keluarga, atau berbagai aktivitas adat.
Ruang terbuka di antara rumah juga mempunyai fungsi.
Di lingkungan kampung tradisional Nias Selatan, ruang desa dapat menjadi tempat masyarakat berkumpul, melaksanakan acara adat, menampilkan tari perang, hingga melakukan Fahombo.
Jadi, pelestarian rumah adat idealnya tidak hanya menyelamatkan satu bangunan.
Tata kampung dan lingkungan budayanya juga harus diperhatikan.
Mengapa Rumah Adat Nias Terkenal Tahan Gempa?
Klaim mengenai rumah adat Nias yang tahan gempa bukan sekadar cerita promosi wisata.
Sejumlah penelitian memang menunjukkan performa rumah kayu tradisional Nias yang baik saat menghadapi gempa.
Kajian tahun 2024 mengenai ketahanan rumah tradisional Nias menyebut rumah tersebut telah dikembangkan selama berabad-abad dengan model arsitektur yang fleksibel.
Material utama berupa kayu, bentuk rumah panggung, sistem struktur, serta tumpuan bangunan memungkinkan rumah merespons getaran secara berbeda dibanding struktur berat dan kaku.
UNESCO juga pernah mencatat bahwa setelah gempa besar di kawasan Aceh dan Nias, rumah kayu tradisional yang dibuat dari material lokal menunjukkan performa yang sangat baik dalam menghadapi guncangan tanah.
Tentu saja kondisi setiap rumah berbeda.
Rumah berusia puluhan atau bahkan lebih dari seratus tahun memerlukan pemeliharaan agar sistem strukturnya tetap bekerja sebagaimana mestinya.
Di sinilah tantangan pelstarian mulai terasa.
Ancaman Terbesar Justru Datang dari Usia dan Perubahan Zaman
Rumah tradisional terbuat dari bahan alami sehingga tidak mungkin bertahan selamanya tanpa perawatan.
Kayu dapat lapuk, dimakan serangga, rusak akibat kelembapan, atau kehilangan kekuatan setelah digunakan selama sangat lama. Atap dan sambungan juga membutuhkan penggantian secara berkala.
Pada Juni 2025, RRI melaporkan kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi rumah adat Hilisimaetano.
Ketua Panitia Maniamolo Fest saat itu menyebut banyak rumah tradisional mulai lapuk dimakan usia dan berharap pemerintah memberi perhatian lebih besar terhadap upaya pelestariannya.
Masalah lainnya adalah biaya.
Membangun atau memperbaiki rumah tradisional membutuhkan material kayu berkualitas dan pengrajin yang memahami teknik konstruksi lama. Jika pengetahuan tukang tidak diteruskan kepada generasi berikutnya, pelestarian akan semakin sulit.
Modernisasi juga membawa tantangan tersendiri.
Museum Pusaka Nias mencatat bahwa sebagian kawasan Hilisimaetano sekarang sudah memiliki karakter modern meskipun puluhan rumah tradisional masih bertahan.
Perubahan seperti ini sebenarnya wajar. Yang penting adalah menemukan keseimbangan antara kebutuhan hidup masyrakat sekarang dan perlindungan warisan lama.
Rumah Adat sebagai Daya Tarik Wisata Hilisimaetano
Bagi wisatawan, rumah tradisional menjadi salah satu alasan utama berkunjung ke Hilisimaetano.
Paket wisata resmi desa bahkan memasukkan kegiatan berkeliling kampung untuk melihat rumah adat dan batu megalitik, kemudian dilanjutkan dengan atraksi lompat batu, penggunaan pakaian tradisional, serta menikmati jajanan dan kopi lokal.
Konsep seperti ini menarik karena rumah adat tidak ditempatkan sebagai objek yang berdiri sendiri.
Wisatawan bisa melihat hubungan antara bangunan, masyarakat, makanan, seni, dan tradisi.
Namun wisata budaya juga perlu dilakukan dengan etika.
Sebagian rumah masih menjadi ruang hidup keluarga. Karena itu, pengunjung sebaiknya meminta izin sebelum masuk atau memotret bagian dalam, mengikuti arahan pemandu lokal, serta tidak menyentuh benda adat sembarangan.
Dengan cara tersebut, wisata justru dapat membantu meningkatkan apresiasi sekaligus memberikan manfaat ekonomi kepada warga.
Menjaga Rumah Berarti Menjaga Pengetahuan
Pelestarian Omo Hada bukan hanya persoalan mengganti kayu yang lapuk.
Ada pengetahuan yang perlu diselamatkan: bagaimana memilih kayu, menentukan ukuran, membuat sambungan, memasang penyangga, membaca kondisi tanah, hingga mengatur ruang sesuai kebutuhan keluarga.
Pengetahuan tersebut sebagian besar berkembang melalui pengalaman.
Karena itu, generasi muda perlu dilibatkan bukan hanya sebagai penonton. Mereka perlu mengenal proses pembangunan dan perawatan rumah, sebagaimana mereka belajar Fahombo, tarian tradisional, Hoho, atau kerajinan lokal.
Upaya rehabilitasi juga sudah pernah dilakukan secara lebih luas di Pulau Nias. Penelitian mengenai rumah tahan gempa mencatat Museum Pusaka Nias bersama mitranya merehabilitasi lebih dari 300 rumah tradisional di Pulau Nias selama periode 2005-2013.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa konservasi memungkinkan dilakukan melalui kerja sama masyarakat, pemerintah, lembaga budaya, dan pihak pendukung lainnya.
Rumah boleh terlihat sebagai benda, tetapi keahlian membangunnya adalah warisan yang hidup.
Rumah Adat Nias di Desa Hilisimaetano adalah salah satu bagian penting dari identitas budaya Nias Selatan. Puluhan rumah tradisional masih berdiri di desa ini bersama batu megalitik, seni pertunjukan, dan tradisi masyarakat yang terus diwariskan.
Keistimewaannya bukan hanya terletak pada tampilan kayunya. Sistem rumah panggung, konstruksi yang relatif fleksibel, struktur penyangga, serta pemilihan material menunjukkan pengetahuan masyarakat dalam beradaptasi dengan lingkungan rawan gempa.
Namun usia bangunan dan modernisasi membuat perawatannya semakin mendesak.
Jika berkunjung ke Hilisimaetano, luangkan waktu untuk melihat rumah-rumah tersebut lebih dekat bersama pemandu lokal.
Jangan hanya melihat bentuknya, tetapi cari tahu siapa yang membangun, bagaimana rumah dirawat, dan cerita keluarga yang hidup di dalamnya. Dari situlah keunikan arsitektur Nias benar-benar terasa.
FAQ
1. Apa nama rumah adat tradisional Nias?
Rumah adat Nias umumnya dikenal sebagai Omo Hada, sedangkan rumah besar yang berkaitan dengan kalangan bangsawan atau pemimpin disebut Omo Sebua/Omo Zebua.
2. Berapa banyak rumah adat yang masih ada di Hilisimaetano?
Museum Pusaka Nias mencatat sekitar 70 rumah tradisional di Hilisimaetano dalam inventarisasi yang ditampilkan di situsnya. Jumlah aktual dapat berubah karena usia bangunan, kerusakan, renovasi, dan pembangunan baru.
3. Mengapa rumah adat Nias dianggap tahan gempa?
Rumah tradisional menggunakan struktur kayu yang relatif fleksibel, konstruksi panggung, sistem penyangga, dan tumpuan yang memungkinkan bangunan merespons guncangan. Penelitian menunjukkan banyak rumah tradisional Nias bertahan baik saat gempa besar.
4. Apakah rumah adat Hilisimaetano masih dihuni?
Hilisimaetano merupakan kampung hidup, bukan museum terbuka tanpa penghuni. Karena sebagian bangunan berada dalam lingkungan kehidupan warga, pengunjung sebaiknya meminta izin sebelum memasuki rumah.
5. Apa ancaman terhadap rumah adat Hilisimaetano?
Salah satu masalah utamanya adalah pelapukan akibat usia. Pada 2025, warga menyuarakan perlunya perhatian lebih terhadap sejumlah rumah tradisional yang kondisinya mulai lapuk.